Sabtu, 31 Agustus 2013

Silly Grass(Tentative title).
















a Silly Grass
(tentative tittle)


by : Arsyad Kalua


















SATU : Epilog


Kukirim cintaku lewat udara
Melalui gelombang tak kasat mata
Tak terdeteksi di empat dimensi
Presisi menghindari tiap intervensi


Semoga ia lekas tiba sayangku
Sebelum kau bosan menunggu


Rasa hati yang tak tersentuh beku
Sebuah pesan lama penuh rindu
Dan saat rasa tak dapat terungkap lewat kata
Kukirim cintaku lewat udara


Semoga ia lekas tiba sayangku
Sebelum kau bosan menunggu


Langkah kaki cepat yang menapak tergesa, melintasi dua tenda kaki lima, menghindari cahaya lampu kota, bersembunyi di antara naungan gelap bayangan gedung yang tersisihkan. Tiba-tiba berbelok masuk ke dalam gangyang merupakan pintu masuk sebuah labirin, yang tesusun tanpa presisi, sarang ribuan monster bertopeng peri, tempat yang indah bagi yang tersisihkan untuk mati, tempat untuk orang-orang yang ingin lupa dan terlupakan, yang tiap sisinya terbangun dari dusta dan pengkhianatan, dan ketika malam sepekat untaian rambut bidadari, akan terdengar jerit kesakitan dari para pemberani yang tersesat atau terlalu bodoh untuk masuk ke dalamnya, karena hanya monster dan orang mati yang bisa pergi.
Lubang di langit dirayapi dan ditelan oleh segumpal awan tebal , meninggalkan kerlip-kerlip kecil yang masih tangguh berjuang melawan gelap yang semakin pekat. Sepasang kaki membawa bayangan menari dan melompat dari sisi ke sisi, tergesa di antara rayuan dan godaan pelacur kelas teri, berputar mengabaikan sapaan dan makian perampok yang sakit hati, berbelok untuk menyepak pujian kosong penipu tak tahu diri. Di depan sebuah pintu akhirnya sepasang kaki terhenti, tiga ketukan tak seirama dan pintu berayun terbuka. Sepasang kaki berjaga di belakang pintu, sepasang lagi di sudut ruangan, dan sepasang lagi tenang menunggu di belakang meja. Sepasang kaki tadi segera masuk dan menghampiri sepasang kaki di belakang meja.
Sepasang kaki di belakang meja mulai beranjak menghampiri pintu, berhenti di ujung meja, melepas untuk lalu mengelap kaca matanya, dengan suara yang halus dan tenang hampir seperti berbisik ia bertanya
“Jon, apa kabar kota tercinta kita hari ini?”
Sepasang kaki yang beranjak masuk tadi menjawab setengah mendengus.
“banyak anjing berkeliaran di tiap sudut kota, pemain baru yang tak tahu diri itu bikin banyak orang mati hari ini, bos masih dicari, tapi inspektur anjing yang baru masih belum mengenal medan, mengirim pasukannya mengendus dan mengais di tiap selokan.”
Seorang pria berbadan besar dengan kaus ketat polos dan celana jeans yang bersembunyi di belakang pintu segera bergerak menutupnya setelah jon beranjak masuk, lalu bersembunyi kembali dalam diam dan gelap sudut ruangan. Seorang pria yang bertubuh tinggi kekar dengan kemeja corak pantai yang berwarna cerah dipadukan dengan jas dan celana kain serta sepatu kulit hitam mengkilat beranjak dari sudut ruangan bergabung di tengah ruangan, dengan potongan rambut klimis, wajahnya hampir mirip meski tak setampan Jon yang baru saja tiba, kumisnya di cukur tipis membentuk sebuah garis tepat di atas bibir. Suaranya berat dengan logat yang penuh penekanan
“untuk sekedar berjaga-jaga, penjagaan untuk bos sudah ditambah. Jon, kamu yakin tidak ada yang mengikuti kamu masuk ke sini?”
Jon melirik tajam ke arah sepupunya Wei sebelum akhirnya menjawab pertanyaanya
“aman”
Soe membenarkan letak kacamatanya sebelum beranjak ke ruangan sebelah dan kembali dengan beberapa lembar dokumen.
“Jon, besok saya ingin kamu jemput Arya, antarkan dia pada Wei” soe dengan kemeja panjang putih rapi dan celana khaki menyodorkan beberapa lembar dokumen pada Jon yang mengenakan kaus di balik jaket kulit hitam dan celana jeans biru pudar, lalu kembali duduk di belakang meja, membenarkan letak kacamatanya,lalu membaca beberapa dokumen. Dari balik tumpukan buku dan dokumen penuh tabel dan neraca yang sedang ditekuninya dia berkata dengan suara yang sangat pelan dan tenang hampir seperti berbisik
“biar Wei yang urus selanjutnya. Bos pesan untuk jaga baik-baik keselamatan pemuda ini. Dia asset buat organisasi kita, obat baru yang dikembangkannya bisa memberikan efek yang sama sekaligus menghindarkan pecandu di kota ini dari OD. Semakin sedikit pelanggan yang OD akan semakin baik untuk bisnis kita, pedagang yang baik selalu memikirkan keselamatan konsumennya”.


Malam semakin pekat, dan fajar masih enggan untuk bertukar posisi. Di sudut kota berlawanan, daerah perdagangan yang biasanya semakin bingar di kala malam, di antara warna-warni neon-box beraneka bentuk, di sela asap-asap rokok yang menyesaki udara, menyempil di antara bau menyengat alkohol fermentasi yang teraduk dengan parfum dan bekas muntah, tempat dimana pekat malam terpolusi kerlap-kerlip beraneka warna, dan suara binatang malam terganti oleh dentuman-dentuman notasi berirama.
Namun malam ini adalah malam sisa-sisa, jalanan terlalu lengang, hanya beberapa bayangan yang berkelebat cepat, dentuman di lantai dansa sayup teredam dan tertelan sirine yang meraung-raung dengan kuasa dominan. Sisa-sisa pesta berserakan ditinggalkan pemiliknya yang terlanjur panik untuk kabur menyelamatkan diri, beberapa pita kuning terpasang melintang di akses masuk beberapa gedung. Beberapa pria berseragam berkeliaran mengendus mencari mangsa yang bersembunyi. Penggila pesta yang terlambat datang mengumpat dalam bisikan-bisikan rahasia
“Anjing, polisi operasi gede-gedean”


Di pinggiran lain kota, daerah pemukiman yang tenang dan damai, area yang dibangun dengan seksama, tiap bangunannya berbentuk serupa, membentuk kompleks dengan simetri sempurna. Dilingkari guratan sepasang besi yang tertidur tenang berbantalkan jutaan potongan kayu dan tumpukan kerikil, berujung pada sebuah bangunan usang, satu-satunya area di daerah ini yang terbengkalai dan tak terurus, namun letaknya tersembunyi dikelilingi bangunan seragam yang angkuh mencuat seperti nyonya besar yang menyembunyikan aib putra kesayangannya.
Tiga sosok berlari menembus dingin udara malam, umpatan terlontar di antara tarikan nafas yang tersengal. Ketika ketiganya telah tiba di bawah lampu yang menerangi papan nama bertuliskan “BENGKEL KERETA KOTA SENJA” barulah mereka berhenti untuk mengambil nafas. Dua pemuda dan satu pemudi, pakaian pesta mereka basah oleh keringat. Penuh antisipasi mereka mengamati lingkungan sekitar, mewaspadai tanda-tanda pengejar, setelah di rasa aman mereka segera beranjak masuk ke area bengkel kereta. Memutari rongsokan lokomotif uap masa colonial, melompat di antara gerbong-gerbong, tak lama kemudian mereka seakan ditelan barisan rongsokan besi tua. Tepat di tengahnya sebuah gerbong berwarna putih dengan sebuah simbol berbentuk lingkaran berwarna merah di pintunya berdiri kokoh, sebuah gerbong yang tersembunyi rapi dilengkapi akses kabur dan pengawasan ke berbagai arah. Ketiganya berhenti, lalu seorang yang terlihat paling tua mengetuk sisi gerbong lalu berkata
“a man can be destroyed”
Di antara jeda nyanyian binatang malam terdengar sahutan
“but not defeated”
Tak lama kemudian pintu gerbong bergeser terbuka. Ketiganya dengan cepat melompat masuk, dan pintu segera kembali bergeser menutup. Di dalam gerbong terdapat dua orang pemuda, satu pemuda dengan mata yang selalu sayu seperti sedang mengantuk sedang mengawasi tumpukan beberapa layar kecil yang menampilkan keadaan di sekitar area tersebut, satu pemuda lagi yang tadi membuka pintu dengan perawakan tinggi kurus dan mata yang seakan tidak perduli kini bergeser malas ke arah sofa panjang, tiba-tiba melompat dan berjongkok di atasnya, dengan gerakan pelan dan malas mengangkat pegangan cangkir berisi teh hijau di atas meja dengan ujung jarinya. Mematahkan sekeping coklat, menyesapnya sambil mengawasi tamunya dengan tatapan yang tiba-tiba menjadi menusuk sangat tajam. Tak lama kemudian pandangannya melengos dan tatapannya kembali santai dan seakan tidak perduli, mulutnya menggumamkan beberapa kata sambil tetap mengunyah coklat lengket.
Pemudi yang baru datang menunjuk ke arah kamar mandi dan segera bergegas menuju kamar mandi setelah mendapat respon berupa anggukan kecil di antara gumam yang masih tidak jelas, satu orang pemuda segera menuju sebuah layar monitor besar yang terhubung dengan pengendali konsol permainan, dan pemuda terakhir yang paling tua di antara ketiganya menarik sebuah kursi ke seberang meja.
“Anjing sia men, bener kata kamu, banyak banget polisinya tadi, gebrekan gede-gedean, untung aja kita pas di deket pintu keluar tadi, jadi bisa langsung kabur. Sam hampir aja ketangkep, si Pia dua kali hampir jatuh waktu kita kabur”
"tadi Miko ketakutan sampai hampir kencing di celana tuh, nyesel sia ga ikutan" pemuda yang bernama Sam menyahut sambil tetap bermain game.
pemuda yang bernama Miko nyengir mendengar ejekan temannya. tak lama kemudian Pia keluar dari kamar mandi dan segera duduk di samping Arya yang mengenakan kaus berlengan panjang putih dan celana jeans pendek masih memegang cangkir dengan ujung jarinya dan sibuk menghabiskan kepingan coklat di mulutnya. Tak lama setelah kepingan coklat di mulutnya meleleh habis Arya kembali melompat untuk bergeser malas ke dalam sekat plastik di ujung gerbong, lalu kembali dengan satu tabung kecil yang berisi beberapa tetes cairan biru. dengan suaranya yang seperti sedang menggumam dia bertanya
"Silence party?"
ketiga tamunya tersenyum bersamaan dan segera mendekati Arya.
"Cara pakenya gimana nih?" tanya Sam
"Bebas kok, di campur ke minuman bisa, di tetesin langsung ke mata bisa, di campur ke rokok trus di hisap bisa. yang pasti campuran ini bisa dan aman dikonsumsi dengan cara apapun" Arya menjawab sambil menengadah ke atas seperti orang yang sedang berfikir.
keempatnya berbagi masing-masing satu tetes, memasang earphone, dan menikmati imajinasi tanpa batas.
ke-Dua : Tentang Pria laba-laba
aku adalah monster yang tercipta dari bosan. memintal benang abu-abu yang menghubungkan tiap potongan.
aku adalah harapan terakhir dari keputus asaan, aku adalah monster yang diciptakan oleh bisikan-bisikan kekhawatiran.
aku adalah tonggak penopangmu agar kau selalu dapat tersenyum meskipun hatimu hancur.
aku adalah tembok pengaman dan kesatria penjagamu dari monster yang tersembunyi dalam dirimu.
aku adalah bayangan yang terbentuk dari cahayamu.
aku adalah lubang dalam sistem, aku dapat melindungimu dari mimpi terburukmu, namun aku tak dapat mengajarimu tentang kehidupan,aku tak dapat mengajarkanmu tentang hal yang belum pernah aku aku ketahui dan tidak pernah aku rasakan.
dan aku dilahirkan dari bibit dusta, aku mengajarkanmu untuk membohongi dirimu sendiri, membuatmu terlena, membuatmu lupa bahwa kesusahan dalam hidup adalah sudah sewajarnya; sudah semestinya.
kutemukan arti kehidupan dalam tiga detik terakhir umurku, tiga detikku sendiri, lebih berarti dari tahunan umurku, lebih berharga daripada jutaan hari yang telah kujalani, lebih berarti dari semua yang kumiliki. tiga detik dimana aku benar-benar merasa hidup, begitu nyata, begitu sempurna. tiga detik terakhir dalam hidupku, satu kedipan mata lagi dan semua akan berakhir, aku akan mati dengan tenang. aku akan mati di ujung selokan ini, darah menggenang dari tubuhku yang penuh lubang, bercampur dengan anyir air selokan, tapi aku akan tersenyum bahagia. karena setidaknya dalam hidupku aku pernah merasa benar-benar hidup, begitu nyata, begitu sempurna, meski hanya tiga detik saja.
aku dilahirkan di ujung lain selokan yang sama, dibesarkan oleh makanan sisa-sisa. ditempa oleh makian, ludahan, dusta dan pengkhianatan. aku belajar mencuri saat aku mulai punya gigi. tanganku tercetak untuk mengepal, menghajar dan menghabisi. aku adalah nyali, terlalu liar untuk terkendali, terlalu buas untuk menyadari, terlalu haus untuk mencari arti. aku bangun keluargaku dengan keringat dan darah. kujalani hidupku tanpa takut mati, karena aku tak pernah mengerti, karena aku tak pernah merasa benar-benar hidup, karena aku adalah monster buas yang kosong, dan kosongku redup ketika aku akan mati.
aku mengajari diriku sendiri untuk tidak pernah percaya pada orang lain, buah pahit dari pengkhianatan. maka aku bangun keluargaku dengan keringat dan darah. dengan kesamaan visi aku melebarkan sayap dan bekerja sama, dengan teror aku berdansa, di antara bisikan yang diselipi dengan pujian dan senyum hampa aku bertahta. aku adalah pria laba-laba, tak ada berita yang lolos dariku. aku adalah pria laba-laba, coba macam-macam maka akan kucaplok kepalamu. aku adalah pria laba-laba, bayangan gelap tanpa muka dari kota bernama senja.
keluargaku intiku kecil dan sederhana. Soe adalah tangan kananku, semua tentangnya berkenaan dengan dokumen dan buku, monster kecil yang bersembunyi di balik kaca mata, jika aku singa maka ia adalah srigala. dulu dia adalah rivalku, kami tumbuh di lingkungan yang sama, ditempa berbagai penderitaan serupa. dan pada suatu masa dia terjatuh dan kehilangan seluruh keluarganya, maka kubangun keluarga baru bersamanya. keluarga terhebat sepanjang sejarah labirin sarang para monster bertopeng peri.
wei adalah kepalan tanganku, pelindung setia sejak kuselamatkan nyawanya dari kepungan musuhnya. jika ada seorang saudara yang rela menggantikanku mati maka dia adalah orangnya. jika ada yang menginginkanku mati maka mereka harus melewatinya. tubuh penuh lubang dan bekas luka adalah bukti nyata. wei adalah pria sederhana, yang tak mampu diselesaikan dengan kata dan kepala dibereskannya dengan tinju dan sepotong pipa.
Jon bergabung dengan keluargaku setengah tahun setelah wei, pemuda ini adalah sepupunya. Dia datang dari pinggiran kota. Dia adalah mata, dan telingaku. melihat rahasia dan mendengar bisikan halus tikus-tikus yang bersarang di gorong-gorong untukku. Menyelinap di antara barikade penghalang polisi, berkeliaran di wilayah kekuasaan rival. Hanya satu kelemahannya, yaitu paduan pemilik bibir merah yang tersenyum merekah, lirikan mata yang menggoda, dan bisikan manja yang banyak menghiasi jalanan-jalanan kota. Dan dengan tampang sepertinya, bukan hal yang sulit untuk memenuhi kebutuhannya. Namun pada akhirnya kesenangannya itu jugalah yang mengakhiri hidupnya, dan menyeretku ke dalamnya.
Masalah ini bermula dari seorang pemuda jenius bernama Arya, dengan formula rahasia. seorang rival yang pengecut, dan inspektur polisi baru.


10 hari yang lalu
Aku sedang bersantai menikmati pijatan shiatsu, dua orang penjaga berdiri diam di pojok ruangan, dua orang lagi di balik pintu, dan seorang sopir yang menunggu di mobil, saat tiba-tiba pintu di ketuk dengan cepat. Tak lama kemudian Wei melangkah masuk tergesa.
“maaf bos, polisi sedang berkeliaran di kota, menurut berita yang di peroleh Jon mereka masih mencari bos. Soe meminta saya untuk lebih mengutamakan keselamatan dan keamanan bos” kata Wei setelah Jeni, pemijat shiatsu favoritku keluar dari ruangan.
Aku duduk di samping kursi pijat dan meregangkan leher dan badanku untuk berkompensasi pada sesi shiatsuku yang terganggu. Aku menyeka keringat dengan handuk, meminum setengah gelas air lalu berkata
“dimana mereka sekarang?”
dengan suara berat dan logat penuh tekanan Wei menjawab
“Soe sedang mengurus laporan pendapatan bulan ini dan beberapa masalah yang ditimbulkan inspektur polisi yang baru. Sedangkan Jon sedang mempersiapkan penjemputan yang aman untuk seorang pemuda bernama Arya.”
“ya aku mau anak itu aman Wei, kau pastikan anak itu aman dari jangkauan rival kita maupun inspektur baru sialan itu” jawabku setelah mendengar laporannya.
“setelah saya pastikan bos aman, saya sendiri yang akan memastikan keselamatannya bos” janji Wei tegas dan pasti sambil membantuku mengenakan kemejaku.
“bagus, sekarang kamu tunggu saya di mobil” kataku sambil mengambil dasi dan jasku dari tangannya
Tak lama setelah kukenakan seluruh pakaianku, aku keluar dari ruangan yang khusus disiapkan untukku itu. Aku berjalan pelan melalui sebuah lorong panjang diapit dua orang penjaga di depan dan di belakangku. Setelah mengangguk kecil pada manajer dan mendaratkan beberapan kecupan kecil pada sejumlah wanita pemijat yang berbaris rapi setiap aku datang dan pergi dari tempat ini, aku segera menuju mobilku yang sudah menunggu. Wei berdiri tegap di samping sopirku yang sigap berlari untuk membuka pintu dan segera berlari lagi untuk membuka pintu belakang mobil begitu melihat aku datang. Aku segera masuk ke dalam mobil diikuti oleh Wei. Seorang pengawalku masuk melalui pintu depan dan duduk di samping sopir. Sedangkan tiga orang pengawalku segera menaiki mobil lain yang terparkir di depan dan di belakang mobil yang kunaiki, dan tak lama kemudian kami melaju menuju pekat malam


Ke-dua : Tentang secangkir kopi pahit, biskuit kacang, dan susu coklat
Satu kisah romantisme dalam naungan senja
sebuah rangkaian yang ditandai oleh kepakan sayap kupu-kupu merah jampu dalam bilik tak berjendela
dan di antara runtutan disposisi serta korelasi non-linear
definisi sebuah cinta dicari dan dipertanyakan
meski terdistorsi oleh perulangan yang telah lebur dalam dinamis
sebuah rasa masih dicoba untuk dimengerti
hingga sampai pada satu masa
ketika sebuah anomali pada akhirnya dimaklumi dan menjadi biasa saja
lalu satu kisah romantika cintapun mulia kehilangan pesona
di ujung senja...


Pertama kali aku berjumpa dengannya, seminggu yang lalu, di coffeeshop tempatku bekerja, di antara pesanan dua cappucinno decaf dari seorang pria kantoran gendut bermata mesum, satu tall ice latte dari wanita setengah baya dengan anjing pudel yang terus menyalak di belakangnya, dan dua gelas milkshake dari sepasang pemuda dan pemudi yang sepertinya sedang berpacaran, strawberry untuk si pemuda, dan vanilla untuk kekasihnya.
"Kopi pahit. tanpa gula" ujarnya sambil mengacungkan jari telunjuk kanannya ketika tiba gilirannya untuk memesan.
aku segera berbalik membuat pesanannya. dengan pengalamanku keja sambilan di coffeshop ini selama hampir dua tahun aku dapat membuatkan pesanannya dalam waktu rata-rata dua menit, dan ternyata selama itu jugalah dia berdiri mematung dan masih dengan jari telunjuk yang teracung. ketika kuberikan pesanannya barulah dia bergerak untuk menerima cupnya, namun ia tidak segera beranjak, dengan espresso tanpa gula di tangan kirinya ia mendongak dan menunduk menatap kosong ke arahku sambil menggigiti ujung kuku ibu jari kanannya seperti sedang berfikir sangat keras. Tak lama kemudian ia menyerahkan selembar uang dan segera beranjak pergi, namun sebelum beranjak melebihi tiga langkah dari tempatnya mengantri taadi ia segera berbalik lagi. menyerahkan selembar uang dan berkata
"Tepat dua belas menit lagi tolong antarkan segelas susu cokelat hangat yang sangat manis dan segelas air putih dingin ke meja saya, terima kasih" lalu ia mengambil selembar uang lagi dan memasukkannya ke dalam toples tips dan segera beranjak menuju mejanya di ujung ruangan.
dua belas menit kemudian aku mengantarkan pesanannya,
"Anda sedang menunggu seseorang?" tanyaku sambil meletakkan gelas susu coklat hangat dan air putih dingin di mejanya.
"tidak, kenapa kamu bisa mengambil kesimpulan seperti itu?"tanyanya dengan sorot mata yang tiba-tiba menjadi tajam penuh selidik.
"dari tadi saya memperhatikan, anda sering menengok ke arah luar, dan anda memesan kopi pahit sebelumnya dengan penuh penekanan pada tanpa gula jadi saya menyimpulkan kalau anda tidak suka atau mempunyai masalah kesehatan dengan makanan atau minuman manis. lalu kemudian anda memesan susu coklat yang sangat manis jadi saya kembali menyimpulkan kalau susu coklat ini bukan untuk anda sendiri, namun untuk orang yang sedang anda tunggu. maaf kalau saya mengganggu anda" jawabku jujur
Tiba-tiba saja sorot matanya menjadi sangat tenang,
"kamu benar bahwa saya mamang mempunyai masalah dengan makanan dan minuman yang manis. tapi kamu juga salah kalau menurut kamu saya sedang menunggu seseorang dan susu ini saya pesankan untuk orang yang sedang saya tunggu" katanya tenang sambil menarik susu coklat ke hadapannya.
"susu coklat ini untuk saya sendiri" segera meminum susu coklat tersebut hingga hampir setengahnya.
"saya jadi mudah panik karena kandungan gula dalam tubuh saya kurang, sehingga saya harus segera mengkonsumsi makanan atau minuman manis jika ingin menghindari injeksi insulin." ia menjelaskan dengan tangannya yang selalu sibuk bergerak kesana kemari
"jika memang seperti itu kenapa anda tadi justru malah memesan kopi pahit?" tanyaku mulai penasaran
"karena itu membantu saya mengingat, membantu saya agar tidak lupa bahwa hidup itu pahit dan tidak enak" katanya dengan tersenyum.
dan sejak hari itu setiap hari dia selalu datang, tepat di waktu yang sama, dengan pesanan yang selalu sama, dan duduk di tempat yang sama. dan tanpa kusadari, perlahan dia juga mulai datang dan singgah, di hatiku


Ke-tiga : Tentang raja, ratu, dan sebuah istana pasir


seekor naga terbang berputar-putar di atas bukit,
lalu menghilang ditelan lembah putih sehalus dan selembut buaian kapas
menukik ke bumi bersama sekawanan lebah dan burung kenari
dari moncong naga jilatan lidah api menari-nari


dengan pedang panjang dan perisai di tangan
kupacu kuda perang terbaikku
kutantang sang mati
dalam perang yang hanya dapat diselesaikan dengan darah


kami bertemu di taman bermain dengan perosotan, ayunan, dan batang-batang pipa besi yang tersusun agar mudah dipanjat. dia menugguku di salah satu bangku taman, dia tampak sangat cantik mengenakan gaun panjang motif bunga berwarna pucat, dengan cardigan abu-abu dan scarf perak, rambut panjangnya tertata rapi dengan bandana. dia segera bangkit dan berlari padaku ketika terlihat olehnya aku sedang berjalan menuju ke arahnya. sesegera ketika tiba saatnya aku sampai dalam jangkauan tangannya, aku berada aku dalam pelukannya. peluknya begitu hangat, begitu mesra, begitu manja. dan tiba-tiba air matanya menetes jatuh, hingga terasa olehku. perlahan kulepaskan kaitan jemarinya di belakang punggungku, memberi ruang di antara pelukan agar aku bisa memandang lekat pada wajahnya, mengusap tiap tetes air mata yang mulai menetes di pipinya, mencoba mengusir kesedihan dalam diam. namun sesegera itu jugapun pelukannya kembali erat, dibenamkan wajahnya padaku, dan tubuhnya mulai bergetar, di antara sesengukannya kudengar lirih tanyanya
"kamu benar mau pergi?"
"aku harus pergi" jawabku singkat
"kalau begitu aku ikut" katanya di antara tangisnya yang mulai agak reda
"tidak bisa, kamu lebih aman di sini" jawabku lagi
lama kutunggu persetujuannya, namun dia hanya diam hingga akhirnya ia berkata
"bodoh....bodoh...bodoh...."
"yes love, you're in love with a fool" pikirku,
namun tak satu katapun yang mampu meluncur keluar dari mulutku. maka aku hanya diam dan hanya pelukku padanya saja yang menjadi semakin erat, berharap meredam tubuhnya yang bergetar semakin hebat, berharap pelukku dapat menyamankan tiap resahnya, menjawab tiap tanyanya, berusaha meresapi tiap luap sedihnya, dan menghentikan linangan air matanya.
namun aku masih terdiam dalam pelukannya dan dia dalam pelukanku, hingga akhirnya tangisnya mulai sedikit mereda, dan kaitan jemarinya yang melingkar di tubuhku mulai mengendur. kutuntun dia berjalan ke arah bangku, dan kami duduk dalam diam untuk beberapa saat,hanya sesengukan tangisnya saja yang konstan terdengar, dan ia selalu berusaha berpaling dariku, menghindari matanya bertemu dengan mataku.
"eh awan itu bentuknya aneh ya, kayak teddy bear" kataku berusaha mengalihkan kesedihannya,
yang segera kusesali pemilihan kalimat dan topik yang kuucapkan karena tiba-tiba saja dia menengok ke arahku, matanya melotot tajam ke arahku, masih basah oleh air mata, namun tajam seolah tak percaya hanya kalimat seperti itulah yang mampu kuucapkan. segera ia bangkit dan berjalan menjauh dengan langkah yang panjang dan cepat. akupun segera bangkit dan mengejarnya, ketika tanganku mampu menggapai padanya ia segera berbalik
"bodoh..." katanya seperti hampir menjerit dan segera kembali berlalu.
tak tahu harus berbuat dan berkata apa lagi akhirnya aku hanya diam, dan di antara luapan emosinya dia memutuskan untuk menaiki tangga sebuah perosotan dan berdiri diam membelakangiku di atasnya. perlahan akupun mulai berjalan menuju ke arahnya, namun ketika aku mencoba menaiki tangga untuk membujuknya untuk turun, dia segera berbalik ke arahku dan seperti hampir mencoba untuk menginjak tanganku.
"bodoh....bodoh...bodoh...." teriaknya padaku dari atas tangga.
akhirnya aku kembali turun dan menunggunya hingga ia tenang. dalam diam benakku terus berkata
"mungkin aku memang bodoh, tapi aku tahu aku sayang kamu. sungguh aku tak ingin kamu terluka, dan itu tidak mungkin kalau kamu sama aku, dan jika aku harus berkorban maka itu untukmu sayangku. meski itu artinya aku harus jauh darimu, atau kehilanganmu."
dan ia masih berada di atas sana. membentakku tiap kali kucoba untuk sedikit mendekat


mengapa tidak kita coba lupakan saja, bukankah pada dasarnya kita masih saling cinta.
sudahlah kasihku, berhenti menitikkan air mata,
datanglah padaku, tersenyumlah dalam pelukku
biar ku genggam erat jemarimu dan menarilah lagi denganku,
tertawa lagi bersamaku, dalam gurauan yang hanya kita saja yang pahami
dan kau pernah bertanya padaku, mengapa dunia begitu tak adil.
mengapa kita yang punya satu rasa yang sama dipaksa untuk ingkar
mungkin Tuhan sedang berbaik hati pada kita, jawabku
mungkin Tuhan sedang mengajarkan kita tentang pengorbanan
















Ke-tiga : Don't trust the ladies with contact lenses
carrot-cabbage-onion and grass
dont trust the girl with contact lenses
for it is a safe place beneath their eyes
to hide and burried all the lies


beware of all their mummer's ploy and tales
about kingdom of roses
beware for a hundred faces
they keep their dagger and blades
try and look for some place beneath their laces


and before you realize
the reaper is descend upon your face


aku rasa aku hanya nyaman saja ngobrol sama kamu
tapi, kita kan tidak pernah ngobrol banyak
benar juga..... kalau begitu aku ingin lebih sering ngobrol dengan kamu
dan jangan bilang sekarang kamu mau pikir-pikir dulu kayak orang yang tidak punya pendirian